Pages

Friday, November 13, 2009

menangani kelas Anda

Pernahkah Anda berada di dalam sebuah kelas yang suasananya begitu mencekam? Hening, diam, tegang, sang instruktur seakan berbicara sendiri seakan tak peduli keberadaan Anda, dan berbicara hanya kepada slide dan flipchartnya, dan Anda sebagai pendengar semakin ngantuk, materi yang disampaikan tidak terserap sedikitpun, boring, bete, karena sepertinya Anda sangat tidak menyukai kelas tersebut. Biasanya di kelas tersebut bungkus permen bertaburan dimana-mana, kertas chating dioper kesana kemari, tiba-tiba banyak orang pengen ke toilet, atau suara alat tulis yang diantukkan terdengar nyaring sekali. Tidak bisa dilarang pikiran seseorang mengembara entah kenapa, atau menghayalkan apa saja. Mencekam sekali buat saya :-)

Jika berada di posisi peserta di kelas itu, Anda akan memberi respon beragam.
1. Orang yang sungkan dan tidak tegaan akan menguap dengan sembunyi-sembunyi atau berusaha terlihat terjaga dan konsentrasi padahal pikiran Anda sudah segera beranjak dari kelas tersebut tanpa permisi pada instrukturnya.
2. Orang yang mukanya ekspresif akan berbicara menggunakan bahasa wajahnya, entah mengekspresikan ngantuklah, bosanlah, tidak pedulilah, atau ekspresi yang meremehkan sang instruktur.
3. Para 'sniper' (yang suka nembak-nembak sang instruktur) akan mengekspresikan kebosanannya dengan menjadikan instruktur menjadi sasaran tembaknya. Berondong pertanyaan yang ketika dijawab selalu jawabannya tidak memuaskan akan diluncurkan. Alhasil kelas tersebut menjadi kacau balau.
4. Para seniman, akan langsung menciptakan karya seninya di belakang modul trainingnya.
5. Para Miss ring-ring atau BB-ers akan melanjutkan chat-nya, sms-nya, atau push e-mailnya, dengan cara yang Anda pikir tidak diketahui oleh instrukturnya.
6. dll, dll, dll

Jika Anda di posisi sang instruktur mungkin akan stress menghadapi kelas seperti ini. Anda mungkin akan mengalami gejala sebagai berikut :
1. panas dingin
2. gemetaran
3. lutut tinggal di dorong dan Anda akan jatuh
4. blank seketika
5. berusaha membuat joke... but.. garing aja..ini yang membuat kita semakin tampak bodoh
6. ingin segera menyudahi sesi di kelas ini
7. sangat membenci sang sniper dan membayangkan andai ada di ring tinju bersama dia..hahaha..
8. tiba-tiba membuat peraturan mengenai penggunaan HP dalam kelas :-)
9. atau menjadi tidak peduli apa yang terjadi, yang penting semua slide selesai 'dibacakan', hihihi..

Nah, saat ini saya akan membahas dari sisi instruktur. Menjadi seorang instruktur tidaklah mudah. Terkadang kita terlalu perfeksionis, berharap semua hal bisa berjalan dengan sempurna di dalam kelas, padahal sebelumnya kita tidak melakukan apapun. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menjadi seorang instruktur.

Persiapan sangatlah penting
Persiapan yang baik menjadi faktor penentu utama kelancaran pelaksanaan training. Hal yang harus diperhatikan:
1. 5 W 1 H,
  • Apa materi yang akan dibawakan. Bacalah setiap slide yang akan Anda bawakan meskipun sudah berulangkali Anda membawakannya. Kekuatan setiap pengulangan itu semakin ampuh untuk mempertajam materi yang Anda bawakan. Pengulangan melatih kita semakin lihai mencari kata yang bisa me-relate slide yang satu dan lainnya.
  • Siapa peserta yang akan mengikuti sesi training kita. Latar belakangnya, knowledgenya, umurnya, jenis kelaminnya, pekerjaanya, jobdesknya. Ada suatu tips yang tetap ampuh digunakan saat ini. Di ANZ dulu saya belajar psikologi berbicara dengan berbagai usia. Dengan orang yang usianya di bawah kita, kita bisa berperan seperti orang tua, dengan orang yang sebaya kita bisa memperlakukan sebaya/seperti teman, dan uniknya ketika kita berbicara dengan orang yang usianya lebih tua dari kita tempatkan diri seperti anaknya. Biasanya pendekatan seperti itu bisa membuat kita diterima oleh peserta di kelas tersebut. Bagaimana apabila Anda berada di kelas yang secara posisi pekerjaan mereka jauh lebih tinggi dan senior ? Sampai sekarang strateginya adalah menjadikan suasana kelas lebih ke sharing. Tempatkan saja diri Anda sebagai instruktur yang memang akan menyampaikan materi yang harus disampaikan kepada mereka, pertanyaan di luar kapasitas kita, bisa di 'parkir' terlebih dahulu untuk dikonfirmasi lebih lanjut.
  • Dimana pelaksanaan training. Hal ini penting diketahui kita bisa menyesuaikan banyak hal, kostum kita, transportasi kita, dan spare waktu kita untuk mempersiapkan suasana tempat training.
  • Kapan pelaksanaan training. Jangan sampai telat!!! Fatal kalau Anda sebagai instruktur datang terlambat. Bayangkan ketika Anda datang ke ruangan tersebut, berjalan melewati peserta dan saat itu semua mata memandang dengan sinis, menggerutu dalam hatinya tentang Anda, dan dia mengamati penampilan Anda dari ujung kepala sampai ujung kaki, mencari kesalahan penampilan Anda dan siap menerkam Anda ketika mengajar. Suasana seperti ini merusak kelas dan mood Anda.
  • Mengapa training ini diadakan. Silahkan Anda mencari tahu goals apa yang diharapkan melalui training ini. Kalau tidak, sia-sia Anda mengoceh sepanjang sesinya.
  • Bagaimana training ini dibawakan. Apakah lebih ke arah diskusi, atau material delivering, atau probing, dll. Serius training atau Fun training. Siapkan tools yang dibutuhkan(questioner, evaluation form,games, dll)

Tips praktis mempelajari beragam tipe peserta training
Simplenya peserta itu saya bagi menjadi 3 tipe:
  1. Pendengar yang baik (audio), tipe seperti ini akan lebih terkesan dengan intonasi yang bervariasi. Penekanan-penekanan suara sangat mempengaruhinya dalam menangkap materi yang kita sampaikan.
  2. Pelihat yang baik (visual), tipe ini sangat haus akan gambar/tulisan yang ada di slide atau yang Anda tuliskan di flipchart. Setiap gambar unik yang berkesan akan tersimpan di memorinya.
  3. Pengamat gerak yang baik (kinestetis), tipe ini suka sekali dengan gerak-gerik yang Anda lakukan. Dia memperhatikan bahasa tubuh Anda, dia mengamati setiap mimik, gerak-gerik, dan langkah Anda dalam menyampaikan materi.
Nah, setelah kita mempelajari ketiga tipe peserta tadi maka variasikanlah cara Anda menyampaikan materi agar bisa mengakomodir keunikan dari peserta training Anda. Kita tidak bisa memprediksi berapa orang dari peserta tersebut yang tipenya Audio, Visual, atau Kinestetis. Namun di setiap kelas pasti ada ketiga tipe tersebut. Kombinasikanlah aktivitas berikut ini :
  • Anda harus berbicara dengan memiliki intonasi yang jelas. Variasikanlah tinggi rendahnya dan keras pelannya suara Anda. Variasikan cepat atau lambatnya Anda berbicara. Berikanlah penekanan intonasi dan suara pada materi-materi yang penting. Pengulangan kata-kata juga membantu mereka untuk lebih memahami materi yang disampaikan.
  • Anda harus aktif menggunakan flipchart yang disediakan di kelas tersebut. Ini sangat bermanfaat untuk tipe visual. Untuk menggambarkan peta konsep dari materi yang Anda sampaikan tipe ini membutuhkan gambar. Buatlah tampilan yang menarik dari slide Anda. Jangan membuat tulisan yang terlalu kecil dalam slide. Pada saat menulis di flipchart belajarlah untuk mengunakan spidol dengan warna yang bervariasi.
  • Anda juga harus aktif bergerak untuk menguasai kelas tersebut. Tipe kinestetis sangat terbantu dengan gerak-gerik Anda. Belajarlah mengekpresikan apa yang Anda sampaikan. Hampirilah beberapa peserta untuk mengajukan pertanyaan, supaya kesan ini membantu para tipe kinestetis untuk menangkap materi yang ada. Mintalah para peserta untuk melakukan aktivitas yang menimbulkan gerak yang berhubungan dengan materi yang disampaikan. Roleplay yang disediakan di dalam training sangat membantu tipe ini.
Jadi setelah kita tinjau tadi, simple kan ? Intinya instruktur yang hanya duduk, diam disuatu spot saja, memindahkan slide saja dekat laptop, tidak mengajukan pertanyaan juga, dan kurang ekpresif akan membuat suasana kelasnya menjadi sangat boring. Dibutuhkan semangat, mood, dan kondisi tubuh yang sangat baik untuk membawakan sebuah training. So, sebelum training pastikan Anda siap dengan persyaratan tadi.

Activity in between
Tidak semua orang dilahirkan jadi pribadi yang cenderung sanguin, ceria, memiliki selera humor tinggi, bisa membawakan suasana, atau bisa menjadi pelawak yang handal. Tidak semua orang diberi anugrah untuk bisa melakukan sulap atau atraksi yang menggemparkan dalam kelas Anda. Tidak semua orang dilahirkan dengan wajah dan yang menurut standar orang masuk ke dalam kategori 'eye catching' untuk bisa diperhatikan oleh peserta. Nah, bukan berarti dunia runtuhkan kalau anda tidak memiliki hal-hal plus tadi. Jangan sedih... :) Do it with your heart(bukan berarti ga pake persiapan apa-apa loh).
Activity in between bisa kita rancangkan sesi training kita tetap menarik. Anda bisa search di google strategi apa saj yang bisa dilakukan sepanjang training berjalan. Apabila Anda tidak terlalu lucu untuk membawakan joke, jangan terlalu dipaksa. Carilah cara lain, games, kuis2 jawab cepat, video lucu/motivasi, atau aktivitas lainnya yang berhubungan dengan materi kita. Yang paling penting, sediakanlah analogi yang mudah di pahami, untuk setiap hal yang rumit dalam materi yang kita sampaikan.Terlalu banyak hal yang rumit(bahasa rumit, angka2 rumit, rumus2 rumit) tentunya sangat menyebalkan untuk diikuti, nah..that's the challenge.. Persiapkanlah semuanya itu sebelum training dilakukan. Sediakan reward kecil untuk peserta yang aktif. Saya pribadi sih lebih menyukai games yang meminta si peserta untuk beraktifitas namun sangat berhubungan dengan materi. Nah, selamat berkreasi kawan... let's learn the art of teaching...

Yah, sekian dulu ulasan mengenai menguasai kelas kita.. :-) Saya belum terlalu jago-jago amat, masih banyak belajar...

happy teaching :-)

1 comment:

  1. Wuahhh... emang berbakat banget dhe dalam hal mengajar apapun... saluttttt... saluttt...

    Keep spirit hon...


    Andy Siahaan

    ReplyDelete