Pages

Monday, July 05, 2010

Mahesa

Mahesa itu layaknya seorang bayi kecil, yang menuntut perhatian dan ketekunan dari pemiliknya untuk membuat dia bertumbuh. Tidak mudah, tapi mimpi itu tetap tertanam dihati. Masih teringat usaha untuk mengumpulkan biaya SIUP yang notabene tidak besar. Kemudian berlanjut mencari para freelance yang bisa loyal bekerja. Menangani 2 freelance saja pusingnya minta ampun (karena memang tidak ada rasa memiliki). Naik motor kesana-kesini briefing dengan freelance lah, ngajak makan lah, nganter proposal lah, nego bayaran lah, ngemis2 biaya jasalah. Sampai tanya sana-sini mengenai cara pembuatan laporan keuangan yang 'cerdik&jujur'. Kami banyak ditertawakan mengenai serius dan tulusnya kami membangun bisnis ini oleh beberapa rekan/partner. Gurauan skepti&sinis, mengatakan hal ini mustahil, atau dibombardir karena belum ada pengalaman atau sertifikasi, itu sudah jadi makanan sehari-hari. Yah, kami jadikan saja itu sebagai masukan untuk lebih bijak dalam menganalisa sesuatu.

Nangis bombay deh. !_!

Bisa terbayang para enterpreuner yang mulanya seperti kami memulai bisnisnya seperti apa. Masih mending bangun bisnis tanpa bekerja, kami bangun bisnis sambil bekerja. 8 pagi ke 5 sore kerja kantoran, 6 sore sampai 9 malam merintis perusahaan. Dan kalaupun di rumah kadang pembicaraannya mengenai ini proposal dan rencana pengembangan IT untuk masing-masing projek yang sedang kami kerjakan saat ini.

Musti bersabar loh menagih bayaran dari para partner. Kadang bingung, udah dikasih yang terbaik, ternyata para partner menganggapnya biasa aja. Kadang geram karena sering diperlakukan tidak manusiawi. Tapi, ini prosesnya. Ya dijalani saja. Next, Mahesa akan menjadi kebanggaan kami bersama, yang dibangun dengan keringat dan air mata. Kadang emosi, menghadapi partner yang 'songong' kuadrat, menganggap kita sebagai Sales IT saat ini (wong para Direktur itu mulanya dari sales koq, plis tanya mana ada Direktur yang ga punya sense of Sales, don't be stupid). Tak apa, roda kehidupan kan selalu berputar, kadang di atas, kadang di bawah.




Kemarin, di daerah Pasar Festival kami bertemu dengan salah satu teman alumninya suami untuk membicarakan masalah pengajuan projek. Beliau menyarankan untuk menjalankan bisnis ini dijakur swasta saja jangan ke pemerintahan. Alasannya klasik (saking klasiknya harus di museum-kan) yaitu penuh dengan ketidakjujuran. Ternyata cerita punya cerita dia pernah mengerjakan projek ini dengan tidak bertanggungjawab dan bayarannya besar, dia bilang hati nuraninya tidak nyaman.

Dalam hal ini aku sangat geram(tentunya berbeda dengan suami yang selalu menjaga perasaan orang lain, even itu salah -bete deh-). Suamiku mulai memberikan beberapa pandangan yang berbeda kepadanya dengan cara yang sangat smooth, menjaga perasaannya, dan karena dia tetap berkeras, aku angkat bicara dong. Aku analogikan dengan penyanyi, ada penyanyi cafe, dengan bayaran sebesar 2 juta rupiah per penampilan, ada Agnes Monica yang dibayar mungkin mencapai 1 Milyar pada saat dia tampil. Bisa jadi suara mereka sama-sama bagus, talenta mereka sama-sama jagi nari, talenta mereka juga sama-sama cantik, bahkan mungkin Agnes Monica lebih mungil fisiknya. Nah, talenta-talenta seperti itu adalah modal saja, yang sifatnya "given" pula. Orang terlahir ke dunia tidak bisa memilih "given" apa yang akan dia dapatkan. Tapi apa kira-kira yang bisa membuat yang satu bayarannya 2 juta, yang satu bayarannya 1 M.

Bedanya terletak di :
  1. Cara seseorang tersebut mengelola talentanya. Ada orang yang memiliki somethin' 'given' yang banyak contoh, ortu tajir, sekolah tinggal tunjuk, cakep/cantik, fisik kuat dan lengkap, suara bagus, kemampuan orang tinggi, biaya dari ortu untuk sekolah di luar negeri, relasi ortu banyak, punya kesempatan kursus balet,piano,organ,bahasa asing, dll,dll,dll, dari orok..TAPI... sekolah asal-asalan, bermalas-malasan, menganggap semua mudah di dapat selama ada uang, menganggap remeh orang lain, dll. Dijamin, itu semua akan sia-sia. Dapat somethin' 'given' banyak seperti Agnes Monica, itu tidak dia sia-siakan sedari kecil, disiplin belajar, berlatih, masuk kelas akselerasi, dan rutin berolahraga, disertai kemampuan menganalisa membangun "brandnya" serta mempertahankan kualitas prima disetiap performancenya. Aku menyampaikan hal ini kepada calon partnerku yang skeptis tadi. Di bisnis IT dengan mudahnya dia menyampaikan dia dibayar mahal di instansi pemerintahan padahal dia mengerjakannya tidak dengan profesional. Beughhh.. itu sih derita looo... males deh berdebat dengan pembicaraan ga penting ini. Aku menyimpulkan kepadanya bahwa itu yang salah adalah beliau, bukan bisnis IT di pemerintahannya. (sebentar aku berpikir kenapa orang seperti dia bisa jadi se-alumni dengan suamiku yah, tapi segera aku mendapatkan jawabannya "gradasi mental", huhh dasar tukang mencari kambing hitam).
  2. Cara seseorang itu mencari peluang dan kesempatan disertai kesiapan. Talent boleh banyak, talent IT suami sudah cukup tentunya, disertai nama Almamaternya yang sering diasumsikan orang dengan kemampuan yang tinggi. Tapi kalau kami tidak jeli membaca pengumuman lelang tender, atau tidak jeli dengan relasi yang terkait dengan para petinggi yang tentunya pengambil keputusan, yah mana bisa maju. Selain itu ketika ada kesempatan, jika kami tidak siap tentunya hilang kesempatan yang ada. Aku melihat Agnes Monica juga, sejak dahulu dia mencari kesempatan go Internasional. Tapi bukan yang berleha-leha kan. Tidak menggerutu sana-sini, menyalahkan managernya, dllsb. Dia meningkatkan kualitas standar Internasional yang diminta, dan itu aku tahu tidak mudah. Berkali-kali kami dipermainkan oleh para partner itu biasa, pelajarannya adalah, tidak







Someday, Late charge untuk keterlambatan pembayaran jasa akan ada sangsi. Kami akan memiliki Marketing dan Admin yang handal juga. Para partner juga akan lebih menghargai kami karena kami punya Kualitas dan standard tinggi. Kami akan punya tim Development yang berkualitas dan kami hanya menjadi sepasang owner, yang hanya mempercayakan bisnis ini pada direkturnya, dan membiarkan Mahesa ini berjalan, menjadi besar dengan Kekuatannya memegang kebenaran. Semua SOP akan bisa dijalankan dan partner pasti akan ikut ketentuannya. See u at the TOP Mahes :)

gambar diunduh dari http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/bertumbuh.jpg

No comments:

Post a Comment