Pages

Saturday, September 18, 2010

insight from a part story from the past

Teringat suatu masa dimana saya punya peran (sebetulnya kuasa/semacam pengaruh) sebagai koordinator sie rohani, di sebuah pelayanan pemuda HKBP di Bandung. Entah kenapa karena merasa tanggungjawabnya begitu besar karena bertanggung jawab terhadap pelaksanaan sermon dan pelayanan diakonia sosial, membuat saya menjadi terlalu cepat men-judge orang, men-generalisasi perilaku orang, menghakimi, memberi punishment, atau mengklasifikasikan seseorang ke dalam strata rohani tertentu. Betapa sombong, naif, culas, dan sebetulnya tersiksa dengan kondisi seperti itu.

Akan tetapi bukan terhadap orang lain juga saya salah, terhadap Yenny Oktarya juga saya salah. Saya terlau keras mencipta image-nya, membuat terkadang dia tidak berdaya untuk menerapkan semua apa yang dikatakannya kepada realisasinya untuk diri sendiri. Maaf Yen, untuk tuntutan sebanyak itu, menuntut terlalu keras beritual rohani, memuntut terlalu keras berdisiplin terhadap komitment komitment/program-program, menuntut terlalu memporsir untuk excelent dalam studi, pelayanan, tugas rumah, dan lainnya. Maaf, sekali lagi maaf. Sebetulnya sebuah "waktu istirahat" selama 6 bulan yang lalu seharusnya membuat saya menyadari kalau saya terlalu keras untuk Yenny Oktarya sendiri. Maaf untuk standard yang terlalu tinggi tanpa memberi reward untuk diri sendiri.

Saat berangkat ke sebuah kota untuk Aktualisasi diri, semua terasa indah, manis, dan menyenangkan. Saya merasa mulai memberi ruang untuk mengenali diri dan tidak harus Excelent di berbagai lini. Masuk ke kehidupan berkeluarga bertemu dengan pribadi yang sangat memberi ruang terhadap kesalahan dan pembelajaran, penerimaan, dan kasih tanpa syarat, meski harus belalar-belajar- dan belajar. Saya memberi ruang untuk "berbuat nakal", bermain, tertawa, berbuat hal bodoh, menangis meraung-raung, berbicara tanpa isi, yap melakukan semuanya dengan bebas dan atas kontrol orang-orang yang saya cintai. Saya memberi ruang untuk diajari dan berekspresi.

Greatest thanks My Lord for created me in this Wonderful World, with wonderful people that i love, and wonderful part that i can learned everything in purpose to know the reason You created me, and created the people surrounding me.

-sebuah inspirasi dari Jenny Jusuf, yang selalu membuatku terkagum di usia yang masih belia, dia memiliki kebijaksanaan sedalam itu, dan menuliskannya sesederhana itu-

No comments:

Post a Comment