Pages

Monday, July 08, 2013

(lebih) mengenal D I A

Perjalanan mengenal DIA, saat ini sedang mengasyikkan. Materi tidak berasal dari kitab, hanya dari keseharian, pengamatan, dan pertanyaan. Entah kenapa waktu ini tiba-tiba datang. Raga tak menolak, apalagi menengking, pemikiran datang tak permisi, menyesap dan masuk, bebas memberi kritisi. Tak ada rasa takut, gentar, dan perasaan bersalah diantaranya. Semua terasa manis dan menggairahkan. Pertanyaan banyak berkecamuk, pencarian terasa bagai ekstasi yang bercandu, namun membebaskan.

Tak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa DIA bisa dipahami dari karya orang lain, yang bahkan bukan mahkluk yang di"cap" religius. Cap yang saat ini seringkali aku pertanyakan bila "bertengger" di dahi orang. Cap yang acapkali menjadi pembeda kasta kerohanian. Cap yang saat ini berusaha aku hapuskan "mati-matian" karena memenjarakan. 

Bisa dibayangkan, bagaimana aku mempelajariNYA, dari karya sastra, karya yang selama ini entah mengapa aku abaikan keindahannya. Runutan karya kata, tertata dengan asa pembaca bisa "nganga" menerka makna yang tersirat didalamnya. Mengamati karya sastra membungkamku diam seribu bahasa. Menggununglah rasa kagumku kepada Pencipta bisa mengkonstruksikan kerumitan cara otak bekerja menghasil karya seindah itu. Bukankah kita semua ciptaNya adalah pengguna. Sebut saja Dewi Lestari, Sapardi Djoko, Clara Ng, dan banyak lagi yang akan kukenal, memberiku banyak inspirasi bahwa hal kecil begitu mudah dn indah untuk diamati, apalagi digali maknanya, lagu dibekukan dam sebuah karya tulis dengan lirik, permainan kata, diksi, dan irama yang indah, kemudian ber-RESONANSI. Barangkali itulah indahnya sebuah karya jika terbungkus seni.

Berbicara tentang seni, itupun berbicara tentang pengenalan akan DIA, namun lebih jujur, original, kritis, tar berpura-pura, dan memiliki teknik penyampaian dengan momentum yang indah, sekaligus membebaskan. DIA seniman terhebat dalam mencipta. Tak mudah di terka, dan luar biasa menentukan masa. Tak teralu cepat, atau terlalu lambat, semua tertata sesuai irama, dan polaNYA yang mengagumkan.

Dalam pengenalan akan DIA kali ini, DIA memperkenalkan ciptaanNya yang teramat indah dimataNya, seperti aku dan kamu juga. Mulai dari Ninit Yunita dan kelompok TheUrbanMama dan Indorunners-nya, Sapardi Djoko, Clara Ng, Dewi Lestari, Romo Mangun, yan membuat isi kepala ini terobrak abrik untuk mencari, tak hanya sebatas menerima suatu 'teori hidup'. Mereka cukup baik koq, hanya 'menendangku dari tikar usang, untuk mencari sofa cantik dan nyaman, yang akan menemaniku belajar diperpustakaan kehidupan ini', kocak sih, mampu membuatku terpingkal menertawakan diri sendiri. Malahan mungkin tertawa dengan Tuhanku, dan penciptamu juga. Pengalaman ini begitu indah, kawan. Semoa waktunya datang menghampirimu juga. 

Siapa bilang DIA berhenti disitu saja, sejalan dengan proses tadi, aku diijinkan untuk mengulang memahami kitabnya di Kejadian, Keluaran, dan Imamat, sebentar lagi masuk Bilangan, sambil bebas bertanya pertanyaan berikut : 
  • Ditahun berapa ya kejadian pembebasan Bangsa Israel ini?
  • Koq bisa ya Tuhan bicara dengan detail kepada Musa rincian pengaturan bangsa Israel mulai dati tabut perjanjian, sampai soal remeh temeh, bagaimana komunikasinya ya?
  • Tuhan Maha detail sekali mengurus segala keperluan Israel, koq bisa ya?
  • Tuhan bisa marah, mendisiplin sekali, dan semua proses pembenaran dan penyucianitu pakai korban, setip jenis korban pun disebutkan rinci, seberapa berartinya kah korban di kebudayaan pada masa itu?
  • dll, tenang, semua pertanyaan dan pernyataan ditulis dengan rapi jali :)
Saat ini aku terkesima saja dengan caraNya yang super kreatif.

Debut para idealis handal dimataku, juga dipakaiNya. Ada Yu Sing, Reza Gunawan, Ulil,  Ridwan Kamil, Ligwina, Anis Baswedan(yang satu ini malah pernah dipanggil ke geeja untuk mnularkan spiritnya, HKBP loh yng menurut klaim segelintir orang kurang Roh Kudus, ehehehe), dll masih banyak lagi, yang mana aku bisa bebas merdeka mngamatinya. Kedepannya pasti akan bnyak lagi yang DIA tunjukkan. Lah wong DIA tak terbatas dab tak terprediksi.

Disatu percakapan yang menggelitik tentang agama, ada seorang rekan yang sibuk "membela" agamaku dan Tuhan. Dahulu, mungkin aku terjebak dengan konsep 'siapa yang terbenar. 

No comments:

Post a Comment