How luck we are.. itu pesan yang aku tangkap dari sebuah tayangan televisi yang kutonton pada saat aku cuti (hehe..cuti mulu..). Iseng-iseng nonton TVRI ternyata ada sebuah diskusi yang sedang dibawakan oleh seorang presenter tentang dampak dari kenaikan harga minyak dunia. salah satu pembicaranya adalah Prof. Dr. Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup, n emang pakar banget kayanya di bidang itu.
(Ngomong-ngomong aku pernah ketemu dia loh di Bank Mandiri cabang Ratu Plaza, dia salah satu nasabah prioritas di cabang itu. Diliat dari face-nya menandakan kalo waktu mudanya dia cakep juga loh, soalnya kharismanya masih tampak di umur yang sudah sangat senior.. n ngomong-ngomong jumlah dana di account-nya buanyak loh..hihi, back to the topic..)
Di acara itu Pak Emil memberikan pandangannya mengenai permasalahan dampak dari kenaikan harga minyak dunia, dan salah satunya adalah yang sama-sama kita rasakan sebagai warga Indonesia adalah terkena pemadaman listrik bergilir.
(Sebetulnya kalo pemadaman listrik bergilir ini dibilang kerugian sih diliat dulu dari mana kita memangdangnya, diliat dari sisi ruginya mungkin dari sektor industri mereka harus berpikir keras mencari alternatif power supply agar sumbernya tidak selalu dari bahan bakar fosil yang notabene harganya selalu naik dan imbasnya akan menaikkan biaya produksi. Nah sekarang kita liat sedikit sisi positifnya dari pemadaman listrik bergilir yah, tapi ini pendapatkun aja loh..hehe,, enaknya kalo pemadaman listrik bergilir aku diliburkan dari kantor, aku kan bisa males2an dikosan, menikmati waktu2 sendiri, baca buku cerita, majalah2, tidur2an, tapi ga enaknya ga bisa sambil nonton film..padahal aku kan hobi nonton film, apalagi kalo film romantis.. hihi)
Sebetulnya dalam acara tersebut ada sebuah pendapat yang menggugah hatiku, yaitu tentang kata-kata "How Luck We Are..". Dalam benakku beruntung yang seperti apa,,hehe. Ternyata setelah dia menyampaikan pernyataan alasannya aku jadi diam dan malah berpikir. Dia mengatakan bahwa saat ini perkembangan teknologi di Indonesia selalu berkiblat ke negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Perkembangan teknologi di negara tersebut selalu fokus ke penggunaan bahan bakar fosil sebagai power supply-nya. Penemuan-penemuan teknologi transportasinya seperti mobil, pesawat, kapal, dll selalu mengarah pada konsumsi bahan bakar yang besar. Menurut Pak Emil alasan mereka mengembangkan teknologinya demikian karena sumberdaya alam mereka memang memungkinkan untuk mencukupinya. Ekspansi negara-negara tersebut untuk menguasai ladang-ladang minyak sangat gencar. Penelitian-penelitiannya juga diarahkan ke tujuan bagaimana memperoleh minyak di seluruh area di dunia. Mereka gencar melakukan hal tersebut karena alternatif lain sebagai sumber energi sulit dikembangkan di negara-negara maju tersebut.
Nah sekarang mari kita lihat ironisnya negara kita. Sumber daya alamnya sangat berlimpah sekali. sebetulnya tanpa kita sadari masih banyak alternatif lain yang bisa digunakan sebagai sumber energi. Contohnya seperti :
1. Daerah pegunungan dan bukit-bukit banyak potensi air terjun yang bisa kita manfaatkan sebagai sumber energi. Air terjun tersebut bisa menggerakkan turbin dari kincir, yang energi geraknya bisa diubah ke energi listrik.(Pas waktu aku pulang ke Pangururan, aku liat lebih dari 10 air terjun loh.. jadi sebetulnya setiap desa di pangururan bisa punya power supply mandiri kan ?)
2. Negara kita negara kepulauan, angin yang mengitari kepulauan di Indonesia memiliki kekuatan yang cukup sebagai sumber energi gerak. Tentunya angin tersebut bisa kita gunakan sebagai alternatif sumber energi juga. Sama dengan air yang bergerak, air yang bergerak pun bisa menjadi penggerak turbin, yang bisa menghasilkan energi listrik.
3. Supply sinar matahari di negara tropis itu selalu sama dan stabil sepanjang tahun. Teknologi solar system pun seharusnya bisa diprioritaskan untuk dikembangkan di negara kita ini.
4. Saat ini teknologi biofuel sedang bermunculan di berbagai riset. Ini sangat memungkinkan karena potensi berkembangnya tanaman penghasil energi ini bisa bertumbuh subur di negara kita yang tropis ini.(Makanya dulu kan ada lagunya,, di Indonesia kalo lempar batang tumbuh pohoh hehe..).
Guys, try to think about our "LUCK"..
How luck we are..
makasih Pak Emil.. :)
Djeng..
ReplyDeleteKayanknya betulnya judulnya "How LUCKY We Are", dengan demikian kesalahan telah idola endonesa perbaiki..hihihi..