Pages

Sunday, March 01, 2009

Guru Juga Manusia, Butuh Beasiswa


Saya pernah mengikuti seleksi program beasiswa S2 di PPM. Meskipun pada akhirnya saya tidak berhasil memperoleh beasiswa tersebut tapi suatu saat pasti saya akan sekolah lagi. Pada saat proses seleksi, salah satu persyaratannya adalah menulis karangan ringkas mengenai alasan mengapa saya layak mendapatkan beasiswa itu. Demikian karangan ringkas yang saya buat.

Guru juga manusia, butuh Beasiswa

“Guru adalah Pahlawan tanpa tanda jasa”. Ungkapan tersebut tentunya akan selalu ada dalam hati saya, sampai dengan saat ini. Setiap guru tidak pernah mengharapkan imbalan apapun dari anak didiknya. Namun sebaliknya pencerahan yang dia berikan selalu menjadi pegangan untuk setiap anak didiknya untuk menjadi seorang yang berhasil.
Mengapa saya angkat thema tentang ‘Guru’ dalam tulisan ini? Sejak tanggal 10 September 2007 sampai sekarang, saya bekerja sebagai seorang Junior Trainer di sebuah perusahaan asuransi ternama di Indonesia, tepatnya di AIG LIFE. Mengajar merupakan suatu ‘primary job description’ untuk saya. Menjadi seorang trainer, bukanlah pekerjaan yang mudah karena di AIG LIFE, seorang trainer dituntut bukan hanya menyampaikan materi saja. Pertama, menjadi seorang koordinator dari beberapa divisi, yaitu pemasaran, produk, dan operasional supaya bisa membuat target produksi dari perusahaan tempat saya bekerja menjadi tercapai. Kedua, membuat sebuah analisa antara target profit perusahaan dengan kondisi sales force dan karakteristik dari masing-masing partner perusahaan tempat saya bekerja. Ketiga, melakukan pengukuran relevansi training yang sudah dilakukan dengan peningkatan produksi perusahaan, yang nantinya pasti berhubungan dengan profit perusahaan. Belakangan ini, kami ditantang untuk menentramkan hati seluruh partner perusahaan dan customer, yang sedang mengalami kegelisahan karena dampak dari krisis ekonomi global yang mengena pada perusahaan asuransi tempat saya bekerja. Dengan koordinasi dan kerjasama dari tim saya, training sosialisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik di seluruh Indonesia. Hasilnya pada saat kondisi krisis seperti ini jumlah polis yang dibatalkan kurang dari 0,5% dari seluruh polis yang ada di AIG LIFE.

Menjadi seorang Trainer di AIG LIFE sebetulnya merupakan suatu prestasi yang penting dalam hidup saya. Berdasarkan latar belakang pendidikan sebagai seorang Sarjana Kimia sebetulnya kecil kemungkinannya untuk bisa masuk ke divisi Bancassurance Training Center, AIG LIFE ini, terbukti pada saat rekrutmen saya harus bersaing dengan trainer lain dari perusahaan ternama juga, atau bahkan dengan lulusan S2 lainnya yang tentunya ahli di bidang finance, investment, dan insurance. Pada awal karir, saya pernah bekerja di bagian Riset dan Pengembangan di salah satu perusahaan farmasi. Namun karena alasan yang tidak jelas saya diminta untuk mengundurkan diri. Saat itu saya merasa kecewa dan gagal. Saya merasa sudah melakukan hal yang terbaik di perusahaan tersebut, namun dengan apresiasi seperti itu saya menjadi kecewa. Saya memutuskan untuk tetap mencari pekerjaan yang lain. Tawaran sebagai Marketing Kredit di sebuah Bank BUMN pun saya ambil. Menjadi seorang marketing ternyata cukup menantang untuk saya, meskipun sebelumnya saya malu dengan pekerjaan tersebut. Perlahan saya menguasai strategi pemasaran, mulai dari segmentasi pasar, positioning produk dibanding kompetitor, dan cara menganalisa kredit tersebut. Nilai tambah lainnya adalah kemampuan interpersonal saya semakin diasah karena dituntut untuk lebih fleksibel dalam menghadapi karakter nasabah yang berbeda-beda. Melihat prestasi saya sebagai Marketing Kredit, ada seorang Financial Advisor di Bank BUMN tersebut tertarik dengan kinerja saya, sehingga saya direkomendasikan untuk menjadi seorang Financial Advisor juga. Tawaran tersebut saya terima, dan ternyata setelah mengikuti training tentang Asuransi dan Finansial selama sebulan saya merasa menemukan bidang yang sebetulnya sangat saya sukai. Selama satu tahun saya bekerja sebagai Financial Advisor, membuat saya memahami bahwa pengetahuan mengenai perencanaan keuangan sangat penting untuk masyarakat. Jika setiap keluarga merencanakan keuangan dengan baik untuk tujuan pendidikan anak dan kesehatan, maka kualitas sumber daya manusia di Indonesia akan semakin meningkat. Singkat cerita saya mengikuti rekrutmen untuk menjadi seorang Junior Trainer di AIG LIFE, dan saya di terima.

Selama satu tahun menjadi seorang Trainer, saya menyadari bahwa perencanaan keuangan itu sangat penting untuk setiap keluarga di Indonesia, khususnya untuk dana pendidikan dan kesehatan, karena itu akan meningkatkan kualitas SDM bangsa kita. Tujuan saya ke depan ingin membuat sebuah perusahaan Konsultan Keuangan untuk keluarga Indonesia, seperti yang sudah dilakukan oleh Safir Senduk atau Aidil Akbar untuk segmentasi middle up. Namun saya ingin lebih fokus untuk masyarakat kalangan middle low. Dengan populasi pendudukan Indonesia yang sangat banyak merupakan peluang untuk bisa berkembang di bisnis ini dan meningkatkan kualitas hidup bangsa ini. Saya pikir saya sangat membutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam lagi mengenai Leadership, Manajemen, Keuangan, dan Bisnis, yang bisa saya dapatkan dalam perkuliahan jika saya menerima Beasiswa dari Program ‘The Future Leader’ ini. Oleh sebab itu saya berpikir saya layak diberikan kesempatan untuk mengikuti Program ‘The Future Leader’ ini. Kesempatan yang diberikan untuk mengikuti program ini merupakan salah satu modal penting untuk tujuan peningkatan kualitas SDM bangsa ini dan pengembangan karir saya.



'suatu saat saya pasti akan mendapat kesempatan itu,, this is my special gift for my mom,, just wait and see'

No comments:

Post a Comment