“Beautiful things comes with simple ways”
Bukan peristiwa luar biasa yang ingin di bingkai dalam tulisanini. Hanya peristiwa biasa, namun mampu menghentakkan sadar .
Bunga
Ya betul, hanya sesimpel bunga. Entah kenapa beberapa waktu belakangan ini saya menjadi sangat peka menangkap pesonanya. Apakah karena ada hal besar yang melatarbelakanginya ? Tidak!
Simple saja, di suatu pagi perjalanan ke kantor di atas ojek,tanpa earphone atau distraction devices lainnya, dari balik kaca helm, mata memandang pada bunga berwarna kuning bertengger di atas beberapa pohon dalam perjalanan menuju kantor di Karawaci. Nah, hanya bunga kuning kecil biasa kan ? Tapi kesan yang ditangkap adalah rasa kagum dan takjub atas keindahannya dan sentuhan frekuensinya yang lembut di dalam hati. Seketika itu pula saya jadi candu menikmati pemandangan mekarnya bunga. Candu yang otomatis menjelikan mata ini memandangi bunga.
Sesudah insight sederhana itu, mata rentan menangkap dan menikmati pesona bunga lainnya di sepanjang perjalanan kekantor. Sampai pada sebuah kesimpulan bodoh yang tercetusdalam pembicaraan dengan suami.
“Pah, di luar negeri contohnya Jepang yang pernah kitakunjungi ada musim Autumn (Oktober –November) atau Spring ( April – Mei) , dimana alam kasih warna bunga dan daun yangcantik untuk dipamerkan. Nah aku rasa kalau di Indonesiamungkin itu jatuh di bulan Oktober – November ini, Pah.Perhatiin deh, ilalang aja tumbuhnya mekar dan cantik terussangat cocok untuk foto, bunga di kompleks perumahan kitameskipun bunga liar dan bunga kertas mekar cantik yangwarnanya mulai dari pink, orange, kuning, putih, merah, bungasemacam lavender yang berwqrna ungu juga mekar sempurna,keren ya!”
Lalu diam-diam dia mengamati dan menikmati keindahannya.Saya tersenyum saja.
Suatu waktu, saya dan suami sedang berkendara menuju BSDmelintasi Taman Bundaran Alam Sutera. Kami berdua serentaktakjub, memandangi hamparan bunga berwarna ungu yangbermekaran di sekitarnya. Sambil saling berpandangan kamisama-sama berkata “Waw, keren!!!”
Peluk
Setelah drama pembantu batal balik yang sudah berkali-kaliterjadi di rumah kami, Minggu malam dengan tergopoh-gopohkami segera meluncur ke Bandung berencana menitipkan Edgarpada Oppungnya (red : Kakek dan Neneknya). Sepanjangperjalanan kami sibuk menjelaskan alasan kami menitipkannya,mulai dari alasan cuti yang sudah habis, mencari uang untukmembeli topeng dan robot, sampai dengan mencari pengasuhbaru.
Indahnya ada durasi 20 menit yang berkesan yang membekas dihati saya. Dengan tumbennya dia duduk di samping saya,sambil merangkul bahu serta mengusap-usapnya dalam jangkawaktu yang panjang. Matanya menatap saya dengan tulussambil kerap menciumi pipi dan bibir saya seraya mengatakan“Edgar kangen banget sama Mama”. Peristiwa romantis inidiulangnya beberapa kali. Awalnya saya meresponnya dengancuek, namun lama-kelamaan saya menyadari bahwa dia sangattulus. Tertampar rasanya hati ini. Hatinya begitu murni dantulus, dan hati ini tersadar bahwa saya sibuk dengan rasa-rasa “cinta” orang dewasa yang penuh curiga dan bersyarat. Fiuhh.
Terimakasih Edgar sudah mengajarkan murninya rasa itu.
I love you so much Edgar and I miss you so much
No comments:
Post a Comment