
Judul ini diambil sebagai pengantar untuk memulai suatu tulisan saya tentang perpolitikan di negeri ini. Sebagai seorang yang awam dalam hal politik, saya menyediakan sebagian waktu dan perhatian untuk dunia politik ini demi memahami 'yang secuil' saja untuk dimengerti, pastinya pandangan yang disajikan dalam tulisan ini penuh dengan pendapat pribadi dan 'kepolosan'. But anyway, no problem lah...
Sepanjang pelaksanaan pemilu mulai dari persiapan pemilu caleg kemarin, saya sering sekali melihat beritanya di televisi. Sebelum pemilu Caleg kemarin para kandidat Caleg sudah berbondong-bondong untuk mengkampanyekan dirinya mewakili parpol tertentu. Caleg pun beragam latar belakangnya, ada artis, bapaknya artis, pelawak, mahasiswa fresh graduate, pengusaha, tokoh masyarakat, pemuka agama, anak pejabat, anak dari tokoh politik, dosen, dll. Kadang-kadang saya tersenyum melihat spanduk/baliho yang melampirkan tokoh berpengaruh tertentu untuk menaikkan pamor para Caleg, ada juga yang menggambarkan drinya bak superhero(alias pakai baju superman loh..parah..), yang pasti dana yang dikeluarkan oleh masing-masing caleg untuk berkampanye itu TIDAK KECIL. Terbersit dalam pikiran pada saat mereka terpilih jadi anggota Legislatif nantinya pasti berusaha'BALIK MODAL' dulu, hahaha..
Yang sangat mengejutkan pada saat pemilu sudah selesai dan hasilnya diumumkan banyak Caleg yang gagal menjadi penghuni di RSJ..hiii.. ngeri... Tapi ya itulah warna-warninya pemilu ini. Saran saya sih, salah satu persyaratan mereka mendaftar menjadi Caleg, mbok ya di periksa kondisi psikologisnya dulu tho sama KPU.
Selesai Pemilu Legislatif, masing-masing partai mencari strategi untuk berkoalisi. Sepanjang menanti keputusan politik ini saya mengamati kecenderungan seperti berikut :
- Banyak orang menganggap dirinya menjadi 'pakar politik' seketika, tanpa background yang jelas mengenai latar belakang pendidikan atau aktivitas politik sebelumnya. Mereka berbicara membenarkan partainya dan menjelekkan pihak lain yang berbeda pendapat.
- Beberapa partai terpecah suaranya (bahkan partai besar loh..). Ada seorang pakar ekonomi dari partai PAN(tidak saya sebutkan namanya disini), saya pernah melihat begitu fasihnya dan alotnya dia berdebat dengan Sri Mulyani dalam sebuah acara debat di Metro TV mengenai makroekonomi dan ekonomi berbasis kerakyatan, namun dalam sebuah acara televisi kemarin dalam keputusan koalisi partainya nampak 'chicken' sekali. Kritis kok berdasarkan kepentingan tho.. Indikasi adanya kepentingan pribadi/golongan yang mengatasnamakan rakyat itulah yang menyebabkan pecahnya suara partai-partai besar ini.
- Banyak warga negara indonesia yang menggunakan memontum pemilu ini untuk menjadi GOLPUT dan BERLIBUR, karena libur pemilu yang dikombinasikan dengan cuti itu waktu yang tepat untuk bersenang-senang, hehehe.. biaya pemilu triliyunan loh.. hemmmhh
- Banyak warga negara indonesia juga sudah tidak percaya lagi terhadap Caleg, ataupun Capres yang terpilih nantinya, mungkin karena sudah banyak kekecewaan. Warga yang 'desperate' memilih untuk diam saja karena mereka masih berkutat dengan urusan perut,urusan happy-happy, urusan fesbuk, urusan rumah tangga, urusan pengungsian, dll. Kompleks memang, tapi semua itu mungkin terjadi karena kebijakan dari pemerintah sejak dulu tidak berdampak langsung terhadap kehidupan mereka.
- dll,dll,dll
- JK-WIN : JK seorang yang sangat taktis dalam setiap pengambilan keputusan(karena latar belakangnya pengusaha yang mungkin membuat dia berprinsip ' terlambat mengambil keputusan, keuntungan melayang') dikombinasikan dengan Wiranto yang berlatar belakang militer. Sejujurnya kekhawatiran saya pada pasangan ini adalah kemungkinan dari JK untuk membuat kebijakan-kebijakan yang hanya mementingkan bisnis yang dia miliki saat ini. Mungkin angka kekayaannya tidak bertambah secara signifikan pada saat dia memerintah nanti, namun setelah itu dia tinggal menikmati saja, rupiah akan mengalir pada bisnisnya, keluarganya, kerabatnya, rasnya,dll. Tidak ada lagi pengembangan pembangunan yang berbasis kepentingan rakyat, tapi kepentingan 'rakyatnya'. Wiranto, no comment deh, ketika dia berbicara ngambang juga tuh..
- SBY berBudi : SBY seorang yang secara fisik dan wibawa cukup bisa 'berkharisma' dalam menyampaikan sesuatu. Kadang rakyat terlena dengan 'penampilannya', namun saya berpikir sosok seperti inilah yang cocok untuk menenangkan konflik-konflik yang bervariasi di bangsa ini. Cara beliau 'menenangkan' dan ' berkata-kata', cukup menyejukkan, namun actionnya ?? lihat saja.. Sosok baru dalam Pilpres kali ini adalah Boediono, Gubernur BI, hemmh.. no comment deh, kita lihat saja kiprah dari kalangan profesional ini. Secara jujur, saya sangat menanti aktualisasi dari pidato pertamamu Pak, "kita harus lepas dari penjajahan pihak asing".
- Mega - Prabowo : saya bingung mau berkomentar apa terhadap pasangan ini..hehe..
Diatas semua pendapat saya baik yang postif maupun negatif, ada lagi suatu Kuasa yang bekerja diluar dari kapasitas kita sebagai manusia. Orang boleh merancangkan segala sesuatu demi 'kepentingannya', tapi dengan cara yang tak terduga Dia Menyempurnakannya.
teringat lagu :
bagi bangsa ini
kami berdiri
dan membawa doa kami kepadaMu
sesuatu yang besar pasti terjadi
dan memulihkan negeri kami
hanya namaMu Tuhan ditinggikan
atas negeri ini
apapun pendapat Anda, jangan lupa berdoa bagi bangsa ini...
No comments:
Post a Comment