
Inget..inget.. dulu gw punya tulisan tentang 'kelingking yang terpaut'. Bagi gw simbol ini sangat simple dan berkesan. Gw suka banget melakukan ritual ini, sampai dengan sekarang. Pas kemarin pulang ke Bandung gw liat-liat file di komputer gw dulu, ternyata eh ternyata, kerena kamar gw di bandung udah di kudeta sama ade gw yang bungsu, ilang deh semuanya... Tak apalah...
Pengennya sih gw ngulang lagi tulisan itu, tapi beda waktu, beda mood, beda tempat seorang penulis tidak bisa membuat suatu karya yang sama(cuihhh.. hehehe). Sayang banget... Tak apalah...(pengulangan kata untuk yang kedua kalinya di akhir setiap alinea..hahaha)
Tapi intinya aku masih ingat sampai sekarang, makanya ritualnya masih berjalan. Intinya...
- Ketika kita mempunyai suatu hubungan khusus dengan seseorang, terkadang tidak selamanya manis, tapi usahakan ketika kita mau berpamitan lakukanlah ritual 'kelingking yang terpaut.'
- Ketika kita berbeda pendapat, karena kita memiliki cara pandang yang berbeda, dan harus berpisah sesaat karena hari sudah larut malam, akhiri dengan ritual 'kelingking yang terpaut'
- Ketika kita masalah pribadi sedang tak tertangani, dan tak cukup waktu untuk bercerita dan berbagi, 'kelingking yang terpaut' simbol dari 'aku disini, merasakan beban yang berat itu, aku akan menunggumu sampai kau mau bercerita', dan itu sangat melegakan.
- Ketika salah satu sedang bercerita tentang masalahnya, dan kita hanya bisa mendengar dan terdiam, dengan 'kelingking yang terpaut' itu cara yang sederhana untuk mengatakan 'aku ada di sini, mendengarmu'
- Ketika gengsi untuk berkata maaf, 'kelingking yang terpaut cukup untuk mewakilinya.
- Ketika kecup terlalu sulit, belaian tak ada lagi, peluk terlalu sukar, 'kelingking yang terpaut' is the best we can do.. :)
No comments:
Post a Comment