Pages

Wednesday, May 27, 2009

hari gini, ngomongin virgin??? cuapeee deh....


Hemmhh... sebenarnya ini topik yang agak-agak berat. Soalnya setiap orang punya pandangan tersendiri tentang 'virginitas/keperjakaan'. Banyak pendapat yang sering saya dengar kalau bebicara tentang topik ini, tergantung dengan kalangan mana saya berbicara. Entah dikalangan teman-teman Batupenjuru(naposo di HKBP), dikalangan teman-teman kerja di kantor, teman-teman di tempat kerja dulu (AXA, Bank Mandiri, ANZ), teman-teman kosan, dll, semuanya punya pandangan pribadi dan berbeda-beda. Nah pandangannya pun berbeda-beda tergantung dari latar belakang keluarganya, pergaulannya, gaya hidupnya, dan prinsip hidup seseorang.

Dalam bahasan kali ini, saya tidak akan membahas seberapa virgin/perjaka atau tidak, apakah itu dosa atau tidak, apakah itu berharga atau tidak. Setiap orang berhak untuk menentukan prinsipnya sendiri, batasannya sendiri, bahkan sampai pembelaannya sendiri, karena itu merupakan hak prerogatif si empunya 'tubuh'.

Ada suatu hal yang menggelitik dan membuat saya terdiam, memandang suatu 'virginitas' dari sudut pandang yang lain, yang dulunya tak pernah terpikirkan oleh saya. Mudah-mudahan deskripsi yang saya tuliskan di bawah ini bisa menjelaskan apa sedang terlintas di kepala saya malam ini.

-------------------------------------------------------------------------------------------------
Namaku Kezia...


Jakarta, di sebuah perkampungan kumuh dekat rel kereta, Senin sore
Pelan aku langkahkan kaki kecilku, menyusuri rel kereta yang sudah berkarat ini..
Tak sengaja kulihat secarik koran yang terbang melayang di atas kepalaku..
Kubaca dekat sebisaku, tulisan berwarna hitam tebal, aku mengejanya perlahan..

'Virginitas'

Kata apakah ini? Apa artinya yah?
Dengan langkah yang malas ku langkahkan kakiku, sambil pikiranku melayang,,
Hatiku berkata, nantilah aku tanya sama Kak Abednego.. susah amat ngartiinnya..
Kulanjutkan langkahku, aku berpikir, mengapa orang-orang menciptakan kata serumit itu,,
Huuuhhh... ko langit mendung sih,, aku lari aja deh.. nanti keujanan
Ibuku menyiksaku lagi kalau aku pulang terlambat..
Aku berlari sekuat tenaga..

Jakarta, di sebuah perkampungan kumuh, Selasa siang
Akhirnya sampai juga di stasiun ini, kulihat telapak kakiku, hemmhh.. kok bisa yah kaki kapalan begini melepuh, hari ini, besi rel kereta api memang panas sekali, kupikir aku kuat, tak apalah,nanti begitu pulang biasanya kalau pulang kan hujan, begitu kaki yang melepuh ini kurendam di genangan air hujan pasti akan membentuk kapalan baru yang lebih keras lagi, tinggal tunggu tanggal mainnya saja..

Hemmhh.. ngomong-ngomong Kak Abednego mana yah,ko blom tiba juga, aku tunggu sajalah,, tapi aku tunggu di sini saja, 500m dari tangga masuk penumpang kereta ekpress ini, Pak satpamnya suka rese, payah. Emmm.. koq ngomong-ngomong anginnya bertiup lembut yah, lumayanlah, aku bisa tidur bentar..mataku mulai berat nih..

Bussyeett!!! Kak Abed, Kak Abed, seruku dalam hati aku, aku menyesal kenapa aku tertidur, aku segera bangun dan berlari, mencari jam. Sekuat tenaga aku berlari, mengacuhkan teriakan satpam yang rese banget. Kulihat jam, huffhhh.. untung masih 4.30 sore, keretanya Kak Abed ke Bogor kan nyampenya jam 5.20 sore, syukurlah, ga telat.. lebih baik aku menunggu disini, inikan dekat pintu masuk..

Nah itu dia Kak Abedku, huhf.. akhirnya ketemu juga..
'Kak Abed!!', panggilku.
Dia menoleh, 'Hai Kezia, koq keringetan gitu sih?', sapanya sambil tersenyum.. percakapan ringan pun terjadi, mengasyikkan memang bicara dengan dia.. Kami duduk bersama di bangku tunggu, dia beda dengan semua orang 'putih' yang aku kenal(mereka-mereka, orang yang bukan sejenisku kusebut 'putih', karena bersih sekali kulitnya, tak seperti kulitku).
Di sela percakapan kami, aku bertanya hal yang terpikir olehku di sore kemarin.
'Kak!', kataku, 'Kalo arti kata 'virginitas' itu apa sih ?'
Mata Kak Abed koq tampak kaget yah, pikirku, koq dia lama memandangi aku sih..
'Kenapa Kezia nanya itu?' sambungnya dia, menarik napas dan menghembuskannya perlahan..
'Iya kemaren baca di koran.' kataku sambil menatapnya..
Kak Abed membuka sebuah kotak kecil yang ajaib, dia menyalakannya, dan ada layar yang menyala seperti tivi di tempat tunggu stasiun kereta, 'Ini laptop Kezia', katanya. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di huruf yang tersedia dikotak tersebut.
Setelah lama dia mengetukkan jarinya dan memandangi laptop itu, akhirnya dia membaca sesuatu dan mengucapkannya.
'Kezia, 'virginitas' itu menurut yang kakak baca nih, sederhananya gini, keadaan selaput dara dan vagina yang belum pernah tersentuh oleh benda asing apaun namanya, terutama lewat sex. Selaput dara itu bagian dari kemaluan kamu loh, trus, kalau sesuatu masuk kesitu, maka artinya kamu sudah tidak virgin lagi.' jelasnya sambil memandangi aku.
'Emangnya ga boleh ada sesuatu yang masuk kesitu gitu Kak ?', sahutku terbingung
'Iya, harusnya kemaluan perempuan itu boleh dimasuki sesuatu kalau seseorang itu sudah menikah, melalui hubungan suami istri.'paparnya.
'Emang kemaluan kita itu harus di jaga?' aku semakin bingung
'Emang penting yah?, sahutku polos
'Yah, kakak koq ga bilang dari dulu pas ngajar aku di bedeng itu.'jawabku dengan masih saja bingung..
Kak Abed menatapku lama, mukanya juga menjadi pucat, aku bingung melihat mukanya.. kulihat jam menunjukkan pukul 5.15 sore, dia segera menutup kotak ajaibnya, dalam memasukkannya ke dalam tas.
Suara wanita melalui pengeras suara berkata :
'KEPADA PENUMPANG KERETA EXPRESS JURUSAN BOGOR, HARAP BERSIAP-SIAP KARENA KERETA SEBENTAR LAGI AKAN TIBA'
'Besok lagi kita lanjutkan yah Kezia.'ucapnya sambil tersenyum.
'Iya kak' sahutku..

Selasa sore, sepulang dari stasiun
Aku berjalan menyusuri rel kereta api yang sekarang menjadi dingin, hujan gerimis, aku malas berlari, aku masih mau memikirkan hal tadi...
Hemhh, ternyata 'virginitas' artinya gitu yah, ngga boleh ada sesuatu yang masuk ke kemaluan kita sebelum menikah.
Kenapa tidak pernah ada yang memberitahu aku yah?
Kenapa koq ibu ku tidak pernah bilang seperti itu yah? yah boro-boro berbicara denganku saja dia jarang, dia selalu sibuk dengan bapak-bapak lain di bedengku..
Kenapa koq dia selalu merapatkan diri dengan para bapak-bapak itu yah, bahkan kata tetanggaku malang sekali aku jadi anaknya ibuku..
Aku selalu melihat ibu tertindih oleh bapak-bapak itu tapi koq dia malah tertawa yah...
Sejak dadaku mulai sakit kalau tersentuh sesuatu koq banyak orang memandangku dengan sinar mata yang aneh yah.. bahkan bapak-bapak di bedengku berkata, 'Nanti kalo Kezia mo bobo, ditemenin sama Bapak yah,,' sambil dia merangkulku.
Aku teringat suatu malam aku pernah bertanya pada ibu mengapa orang lain punya bapak koq aku tidak. Sambil hampir tertidur ibuku menjawab 'emm yang mana yah.. oh iya, dulu itu paling ga enak rasanya sama si Sobar, makanya jadinya kamu itu'.Hemmh, aku mangkin ga ngerti deh..
Ngomong-ngomong aku pernah ngerasain ngga enak sama kemaluanku waktu tidur dulu, aku lagi tertidur, trus bangun, trus ternyata bapak-bapak bedeng sebelah tidur di sampingku, badanku di pegang-pegang, aku ngga suka.. tapi koq beberapa malam dia suka datang menghampiriku, hemhh.. aku ngga ngerti lagi nih.. yang anehnya tetangga bedengku, si nani, tuti, asih, murni, dll suka cerita mereka sering 'di gituin', trus ga lama kemudian perutnya mekin gede deh, untungnya aku ngga, males juga kalo perutnya jadi gede, ga bisa lari-lari lagi ke stasiun kereta, kan berat..
Wah... tak terasa aku berjalan, sekarang sudah hampir sampai rumahku, besok aku mo ketemu Kak Abed lagi, aku mau tanya 'virginitas' lagi, trus aku mo nanya apa dia punya celana seperti besi ngga, yang ada gemboknya yang ngga bisa dibuka, biar kemaluan aku ngga di pegang-pegang orang lain lagi.
Aku berlari kecil ke tumpukan kardus tempat ku bobo.
Mataku mulai berat lagi, terlihat ibu sedang bergulat dengan bapak-bapak, entah siapa lagi..
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerita ini terinspirasi setelah saya tau cerita Film Jamila dan sang Presiden dan Slumdog Millionare.

FYI, tokoh dalam cerita ini aku beri nama Kezia dan Abednego, nama yang sangat bagus menurutku, tapi sengaja aku berikan untuk tokoh ini, berharap ada nasib yang baik menghampiri orang-orang dengan kriteria nasib yang sama dengan tokoh ini.

honestly, i'm speechless melihat kenyatan ada sebagian saudara kita yang kurang beruntung seperti ini

So, dengar deskprisi 'virginitas' lain yang saya berikan, Apa pendapat Anda tentang 'virginitas'???

Setiap orang bebas berpendapat dan menentukan pilihan.

No comments:

Post a Comment